Aku, Faiz, dan Kucing yang Keracunan


Petang tadi, salah satu kucing yang sering berkeliaran di asrama mendadak kejang. Keracunan, begitu diagnosa awal Faiz, putra bungsu dosenku. Segera kami memberikan pertolongan pertama: meminumkan minyak untuk menetralisir racun dan memijit bagian jantung untuk memompa darah. Aku tak tahu datang darimana Faiz belajar cara pengobatan ini, tapi aku manut saja waktu dia memintaku memberikan pertolongan pertama dengan caranya.

Kucing ini. Ah, kami tak memberinya nama. Setahu kami, ia memang satu diantara empat kucing yang sering berkeliaran di asrama. Memang, terkadang kehadiran keempat kucing ini sangat mengganggu, mereka suka sekali mengacak-acak tempat sampah untuk mencari makan. Faiz sering menyisihkan sisa lauknya untuk mereka, demikian pula blok kami. Tak heran, kucing-kucing ini sering ‘mengunjungi’ kami.

Sore tadi, ada kucing yang datang ke blokku. Ia mengacak-acak tempat sampah untuk mencari makan. Aku biarkan saja ia lakukan, malah aku membantunya membuka beberapa kresek hitam yang diikat kencang, siapa tahu ada makanan yang tersisa. Jadi, waktu mendengar ribut-ribut di bawah soal kucing yang keracunan, aku langsung panik. Jangan-jangan ini kucing yang tadi. Segeralah aku berlari ke bawah untuk melihat kondisinya. Ternyata bukan. Yang tadi ku bantu mengacak makanan berwarna putih belang hitam, yang keracunan berwarna abu-abu kekuningan.

Ah, kucing ini. Beberapa waktu lalu, ia melahirkan lima anak. Aku tak bisa bayangkan bagaimana nasib kelima anaknya bila tahu malam ini induknya tak kembali pulang. Ada perasaan sedih yang menyergapku saat aku memijit tubuh kucing yang masih kejang ini. Syukurlah, setelah beberapa lama, mata kucing yang mulanya terpejam kembali terbuka. Pun, kaki belakang yang tadinya kaku, kembali lemas dan sedikit bergerak. Kami tak berhenti. Faiz masih mencoba meminumkan minyak, sedang aku memijit jantung hingga akhirnya ekor kucing ini terangkat dan mengeluarkan air seni.

Kami memindahkan kucing ini ke tempat yang lebih terang dan kembali memijit bagian tubuhnya. Faiz hendak meminjam handphone ku untuk memfoto kucing ini. Aku tak mengizinkan. Ku katakan padanya bahwa jika esok pagi kucing ini kembali sehat, kita bisa memfotonya esok pagi, namun bila kucing ini harus mengakhiri hidupnya malam ini, aku tak ingin menyimpan foto makhluk Tuhan yang sedang meregang nyawa dalam kondisi kesakitan. Faiz mengalah, ia tak jadi meminjam handphoneku.

Tapi, aku pun minta maaf padanya karena ikan yang ia berikan padaku mati beberapa waktu lalu saat ku tinggal mudik. Maklumlah, tak ada yang mengganti airnya. Faiz bilang tak apa. Ia tanyakan apa aku mau ikan lagi, ku bilang, tidak dulu untuk sekarang. Aku harus berkomitmen penuh dahulu, Iz. Sejak kecil, Faiz memang telah dididik ayahnya untuk mencintai binatang sebagai sesama makhluk Tuhan yang berhak mendapat kasih sayang. Faiz memelihara burung, ikan, dan sekalipun tak memelihara kucing, ia tetap ‘merawat’ kucing-kucing liar yang berkeliaran di asrama. Sementara, sedari kecil aku menghindari kucing mati-matian. Bagaimana lagi? Aku alergi bulunya. Kena sedikit saja, kulitku gatalnya minta ampun. Ya, saat menulis ini tanganku rasanya panas minta ampun minta digaruk!

Setelah beberapa tahun aku tak berani memegang kucing, malam ini aku bahkan mengelus, menggendong, dan memijatnya. Akan ku lakukan pula hal ini pada kalian yang selama ini menjauhi dan kujauhi, mengasingkanku dan kubenci dengan kasih. Aku akan datang lagi pada kalian, menawarkan tangan untuk dijabat, juga pelukan hangat untukmu melabuhkan rindu. Tak akan ada lagi benci, apalagi dendam. Tak akan ada lagi prasangka, apalagi curiga. Aku akan datang padamu kembali, dengan aku yang seutuhnya. Maka, pandanglah aku sebagai manusia yang utuh, bukan sebagai bagian dari sistem yang kalian perjuangkan habis-habisan. Aku telah mengucapkan selamat tinggal pada sistem korup yang kalian puja, tapi kalian tetaplah sahabat yang telah berproses sejauh ini bersamaku.

Soal kucing tadi, ya, akhirnya kami menyerah. Aku sedih sekali.

7 tanggapan untuk “Aku, Faiz, dan Kucing yang Keracunan

  1. Paragraf terakhir semacam elegi yang sering mendera aktivis dakwah kampus 😀 benar berlepas diri itu tanpa harus memendam benci atau menjadi yang dibenci, bagaimanapun semua ‘sistem’ sekarang lbh dimaknai sbg jama’ah minal muslimin bukan jama’atul muslimin itu sendiri. Namun, jika waktunya datang jama’atul muslimin hendaknya jangan pernah berlepas… begitu fuqaha bilang.

    Suka

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s