Puasa Jangan Manja!


“Oh senang hati, puasa telah tiba

Sebelas bulan menanti, akhirnya sampai juga..”

Alhamdulillah, Alloh berikan kesempatan berjumpa lagi dengan bulan suci Ramadhan. Bulan yang harapannya mampu menjadi sarana guna melatih diri kita agar menahan segala goda hawa nafsu dunia, membersihkan hati dari segala prasangka, menyucikan jiwa dari rasa iri dan dengki. Alhamdulillah.. Alhamdulillah..

Satu tahun yang lalu, puasa yang dijalani umat Islam di Indonesia semarak oleh Pemilihan Umum yang gaduh dan memuakkan. Tahun ini, kondisinya tak jauh berbeda, degradasi kemanusiaan dalam segala aspek kehidupan terus terjadi, pun halnya dengan konflik di tataran elite politik yang tak kunjung usai. Betapa melelahkannya.

Rasa welas asih adalah perwujudan sifat Rahman-Rahim Allah swt, karenanya menghargai manusia dan kemanusiaan dan semangat menerima perbedaan adalah keniscayaan yang tak bisa ditawar. Sayangnya, di awal puasa saja, beberapa media berlabel Islam mulai nyinyir perkara “warung” dan “Ramadhan”. Sungguh, saya hanya tersenyum kecut.

Puasa (mestinya) adalah pengendalian segala bentuk nafsu dalam diri selama siang, dan pencerahan spiritual yang mendalam saat malam. Harusnya, kondisi ini berdampak positif dengan munculnya kesalihan sosial yang secara kolektif hadir dalam diri umat. Bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, itu telah kita pahami bersama. Tetapi, bagaimana jadinya bila rohaninya pun tak alami pencerahan berarti, pun akalnya jatuh terperangkap dalam ego sektoral tak berkesudahan?

Menjadi pribadi muslim yang bertakwa bukanlah perkara yang instan. Selama sebulan penuh kita digembleng dengan disiplin total sepanjang siang dan malam untuk melakukan proses dialektik antara naluri biologis dengan dorongan spiritual secara sadar.

Proses romantis ini terjadi selama 24 jam, tanpa jeda. Saat siang, kita menghela segala naluri biologis untuk makan, minum, bergunjing, serta terus menempa diri untuk jadi pribadi yang lebih bermurah hati. Pun saat malam tiba kita tetap masih dihadapkan untuk melakukan konfrontasi dengan naluri biologis untuk terlalu banyak makan, terlalu banyak tidur, dan habiskan waktu untuk perkara remeh, agar kualitas ibadah kita saat malam dapat berjalan optimal, sehingga malam tak akan berlalu begitu saja tanpa makna.

Bisa jadi, karena alasan ini beberapa orang katakan bahwa “warung” adalah hama yang harus dibasmi untuk menjaga kemurnian ibadah. Tetapi, bukankah mental seperti itu adalah pengakuan terselubung akan kelemahan pribadinya dalam mengontrol hawa nafsunya?

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyyah, Pak A.R Fakhruddin pernah katakan kalimat penuh hikmah ini, “Kita dapat menyelesaikan puasa, namun jika kita tetap membicarakan keburukan orang lain, berdusta, menipu, sombong, maka puasa kita tidak berguna dan tidak diakui oleh Alloh. Marilah kita berdoa, berpuasa, berhaji, membayar zakat, dan di atas segalanya ini, marilah kita memperbaiki akhlak kita.”

Bahwa kesalihan tak cukup hanya di dalam ibadah dan doa, namun harus diwujudkan dalam akhlak yang welas asih, perwujudan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin.

Puasa jangan manja ya, Neng!

9 tanggapan untuk “Puasa Jangan Manja!

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s