Catatan Bacaan: Deradikalisasi Islam, Paradigma dan Strategi Islam Kultural


Mengapa partai-partai Islam gagal memperoleh suara yang signifikan dalam setiap pemilu di Indonesia di tengah pemilih yang mayoritas muslim, adalah persoalan yang sulit dipahami dengan baik oleh aktivis Islam. Kegagalan ini menjadi tamparan telak bagi aktivis gerakan Islam untuk menegaskan peran struktural mereka yang bisa menggerakkan suara umat. Demikian pula harapan-harapan politik gerakan Islam yang hampir selalu gagal diwujudkan.

Seolah, kebutuhan akan kekuasaan untuk merealisasikan islamisasi telah menjebak para aktivis Islam dalam lingkaran setan kekuasaan itu sendiri. Padahal, telah diyakini bersama bahwa kekuasaan bukanlah tujuan, melainkan alat untuk mencapai tujuan dengan pendekatan struktural atas dakwah Islam. Dengan naiknya para aktivis Islam dalam tataran struktur politik, mereka akan turun kembali untuk mengislamkan kultur. Namun, sebagaimana jamak kita ketahui, siapapun yang menjejakkan kakinya di tangga kekuasaan tak akan bisa keluar darinya. Sebab, kekuasaan senantiasa meniscayakan pertarungan terus menerus untuk merebut kekuasaan dan mempertahankannya.

Persoalan ini menjadi salah satu bahasan yang dibingkai apik oleh Syaiful Arif dalam bukunya yang berjudul Deradikalisasi Islam, Paradigma dan Strategi Islam Kultural. Ia menolak mentah-mentah perwujudan Islam kultural melalui jalur politik dan lebih menerima subkultur Islam nusantara. Dalam penilaiannya, selama ini, Islam tampak begitu sulit mengapresiasi kebudayaan, apalagi mengembangkan kebudayaan, karena Islam yang dikhotbahkan dan dipelajari seolah menolak untuk berdamai dengan kebudayaan itu sendiri. Padahal, baginya, Islam sebenarnya telah memasuki tahap kebudayaan sehingga tentunya harus diletakkan dalam dimensi kebudayaan.

Gagasan Syaiful Arif terang berangkat dari gagasan pribumisasi Islam Gus Dur, yang juga diamini oleh salah seorang tokoh Muhammadiyyah, Abdul Munir Mulkhan. Mulkhan menilai kegamangan muncul akibat kebudayaan ditempatkan sebagai hal yang tidak mungkin dipadukan dalam keagaamaan, bukan dipahami sebagai proses sosial yang historis, melainkan sebuah realitas final yang mati.

Sosialisasi nilai-nilai yang memadukan gerakan Islam dan kebudayaan sebetulnya telah lama dilakukan. Kuntowijoyo sendiri telah mengklasifikasikan nilai-nilai tersebut dalam tiga macam gerakan kebudayaan, yaitu Islam sebagai gerakan intelektual, Islam sebagai gerakan etik, dan Islam sebagai gerakan estetik. Sebagai gerakan intelektual, nilai-nilai Islam perlu diangkat menjadi konsep ilmu pengetahuan sehingga  umat perlu memberi roh etis terhadap keilmuan modern (islamisasi ilmu). Sebagai gerakan etik, Islam diharapkan dapat memberikan etos tentang sesuatu. Dan sebagai gerakan estetik, Islam diaktualisasi untuk menciptakan lingkungan yang lebih islami.

Melalui cara itu, menurut Kuntowijoyo, sangatlah tepat apabila para aktivis Islam memilih jalur kebudayaan sebagai strategi perjuangan dakwahnya daripada menitikberatkan politik praktis. Politik praktis hanya menjadi salah satu jalan yang bersifat kondisional.

Dalam buku ini, Syaiful Arif membincang struktur budaya dari gerakan Islam sebagai objek kajiannya. Karena sifatnya diskursif, penulis hanya membaginya dalam dua tipe yakni tipe kultural dan politik. Golongan Islam radikal ia nilai sebagai pihak politik, karena menjadikan negara sebagai capaian utama perjuangan Islam. Sementara, tipe kultural ia identikkan dengan gerakan keislaman yang tidak menjadikan negara sebagai capaian politik, melainkan perwujudan nilai-nilai substantif Islam pada ranah kebudayaan.

Saya tidak akan mempermasalahkan pemilihan term yang digunakan oleh penulis yang digunakan untuk menyampaikan makna yang tersirat dari apa yang ia ingin sampaikan. Termasuk term islamisme yang ia identikkan dengan radikalisme Islam, Wahabisme yang ia identikkan dengan hampir semua gerakan trans-nasional Islam, maupun Islam Indonesia yang konsepnya pun masih mentah.

Namun, perlu disadari bahwa seiring berjalannya waktu, gerakan kultural Islam sebetulnya bertujuan menyamankan praktik keagamaan di ruang privat yang tak disadari. Sehingga, pada satu titik tertentu, ia kehilangan momen strategis di ruang publik. Sebagaimana yang Syaiful Arif tulis, “..agama bisa dijalani tidak melalui otoritas, melainkan melalui dan dalam kesadaran. Dalam Islam budaya, individu memiliki kesempatan luas untuk merefleksikan pemahamannya akan makna Islam..”

Namun demikian, kemunculan subjektivitas individu modern yang membentuk pemisah antara wilayah privat dan wilayah publik sebetulnya telah dikhawatirkan sejak lama sebagai dampak dari kapitalisme. Kapitalisme global secara evolutif telah menggeser nilai-nilai sakral keagamaan menjadi instrumen bagi pemenuhan gaya hidup yang berorientasi pada kepuasan dan kesenangan. Agama, pada akhirnya, leluasa diinterpretasikan dengan beragam bentuk dan cara. Akibatnya, di masa mendatang masyarakat bukan saja berhasil melaksanakan praktik keagamaan sesuai pemahamannya, melainkan mampu menciptakan kebebasan-kebebasan lain yang jauh lebih ekstrem dan tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Padahal, agama merupakan akar legitimasi tata nilai sosial dan moral yang berdaulat, baik dalam tataran individu maupun privat. Repolitisasi agama merupakan strategi kapitalisme menciptakan konsumen dalam skala dunia untuk membuat nilai-nilai sakral dalam agama tidak menjadi lebih penting dari kepuasan duniawi yang dijanjikan oleh kapitalisme.

Jika demikian, saya kira, diperlukan suatu kajian yang lebih mendalam tentang proses individualisasi dalam penghayatan dan praktek keagamaan. Benarkah ia merupakan perwujudan hangat islam kultural, ataukah ia hanya merupakan strategi kapitalisme merepolitisasi agama untuk menciptakan konsumen dunia dalam skala yang jauh lebih besar? Wallahu a’lam

Sumber Bacaan:

Arif, Syaiful. 2010. Deradikalisasi Islam: Paradigma dan Strategi Islam Kultural. Yogyakarta: Penerbit Koekoesan.

Ramzy, A Naufal. 1993. Islam dan Transformasi Sosial Budaya. Jakarta: CV Deviri Ganan

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s