Tiga (dalam Arsitektur Gereja Blendug)


Kehadiran bangunan kuno pada sebuah kota menjadi artefak penanda sejarah yang tak terbantah bagi masyarakat setempat. Hadirnya bangunan itu menjadi simbol yang akan segera mengingatkan kita pada perjalanan panjang dalam latar kesejarahan kota tempat bangunan itu berada. Bangunan-bangunan kuno itu dapat kita saksikan di beragam kota di Indonesia. Salah satu diantaranya adalah Kota Lama Semarang. Kawasan ini merupakan penanda majunya perniagaan di Jawa beberapa abad lalu. Terbukti dengan didapatinya banyak bangunan kuno peninggalan Belanda.

Salah satu bangunan di Kota Lama Semarang adalah sebuah rumah peribadatan agama Kristen Protestan yang cukup unik. Dikatakan unik sebab rumah ibadah ini memiliki atap kubah dengan dua menara. Tak heran, masyarakat setempat menyebut rumah ibadah yang bernama asli Gereja Immanuel ini dengan ‘Gereja Blenduk’. Kata blenduk sendiri berasal dari bahasa Jawa ‘mblenduk’ yang berarti menggelembung besar. Ditengarai, bentuk atap yang mirip kubah masjid merupakan bentuk akulturasi kebudayaan di bidang arsitektur antara Kristen dan Islam. Sebab, agama Islam telah lebih dahulu hadir dan berkembang pesat di Semarang.

Selain atap gereja yang berbentuk kubah, ada hal menarik lainnya dari arsitektur bangunan ini, yakni terbaginya bangunan gereja secara vertikal dalam tiga bagian. Bagi masyarakat Jawa, angka tiga adalah angka yang sakral. Candi Borobudur, yang merupakan tempat peribadatan umat Budha pun secara vertikal dibagi menjadi tiga bagian[1]. Tiga bagian ini melambangkan tiga tahapan kehidupan yang menjadi inti ajaran Budha, yakni Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu.

Dalam wujud yang berbeda, penulis berasumsi bahwa tiga bagian vertikal gereja merupakan pengejawantahan doktrin Trinitas Kristen. Dalam Trinitas, Tuhan mengungkapkan diri-Nya secara utuh dalam masing-masing dari ketiga manifestasi ini: Bapa, Putra, dan Roh kudus. Trinitas memberi umat Kristen petunjuk tentang pola perbuatan yang berasal dari Tuhan menuju tatanan makhluk, sebagaimana yang tertera dalam kitab suci agama ini, “segalanya berawal dari Bapa, berproses melalui bantuan Putra, dan menjadi efektif di dunia karena bantuan Roh yang imanen”. Ketiganya saling bergantung dan tak terpisah. Roh mendampingi firman Bapa, sebagaimana nafas yang mendampingi kata-kata manusia. Umat Kristen beranggapan bahwa trinitas hanya bisa dipahami sebagai sebuah pengalaman spritual, yang berarti ia harus dialami, bukan dipikirkan, karena Tuhan berada jauh di luar jangkauan konsep manusia.

Orang Hindu pun telah lama mengembangkan sejenis Trinitas: Brahma, Wisnu, dan Siwa. Ketiganya merupakan simbol atau aspek dari satu realitas yang tak terucapkan. Setelah menetapkan Brahma yang sungguh-sungguh mutlak, Wisnu mewakili pandangan yang menyatakan bahwa Yang Mutlak tentu tak jauh berbeda dengan manusia, dan Siwa sebagai dewa merupakan Yogi besar yang mengilhami para penyembahnya untuk melampaui konsep personal tentang kesucian melalui meditasi.

Bagi orang Jawa, angka tiga merupakan angka yang melambangkan keseimbangan. Mudah-mudahan keseimbangan ini pun bermakna terciptanya tatanan kehidupan yang harmonis di tengah kultur masyarakat yang heterogen dengan beragam aliran kepercayaan yang terlembagakan sebagai ‘Agama’ (dengan A besar).

Firman Tuhan telah membentuk sejarah kebudayaan kita. Semoga kata “Tuhan” pun tetap memiliki makna bagi kita di masa sekarang. Demikian pungkas Amstrong dalam pengantar Sejarah Tuhan. Semoga memang demikian adanya.

Sumber Bacaan:

Amstrong, Karen. 2013. Sejarah Tuhan: Kisah 4000 Tahun Pencarian Tuhan dalam Agama-Agama Manusia. Bandung: PT Mizan Pustaka.

[1] Sebenarnya ada empat bagian. Bagian yang paling bawah tertimbun tanah.

Tulisan ini dibuat untuk tugas mata kuliah Kebudayaan Jawa beberapa bulan lalu. Sangat sederhana dibandingkan berlembar-lembar artikel teman-teman yang lain. Ngebut dalam satu malam. Biasa.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s