Bila


Pertanyaan demi pertanyaan yang kau ajukan padaku adalah nostalgia. Dan masa lalu yang kau hadirkan lewat pertanyaan-pertanyaan itu mengalir laksana derasnya arus waktu yang menghadirkan selaksa kenangan.

Kau tahu? Arus itu tak pernah berhenti mengalir, ia hanya diam-diam bergerak, mengejar kematangan dan kedewasaan . Lalu, dalam kediaman itu, menyelinaplah penantian panjang dalam rentang hidup dan lintasan waktu yang teramat panjang.

Bukankah penantianmu sudah terlalu panjang. Tidakkah kamu ingin membuka hatimu kembali?

Jawabku, Belum.

Penantian yang panjang ini adalah proses belajar yang tak akan pernah tuntas. Seperti kata Freire, proses belajar adalah perjalanan manusia untuk menyadari dirinya sebagai individu. Menjadi individu yang seutuhnya artinya diri sebagai “aku” hendaknya menemukan siapa dirinya yang sesungguhnya.

Hanya dengan mengenal “aku” secara mendalam, manusia dapat berhubungan dengan dunia di luar “aku” secara orisinil. Hingga pada akhirnya, ia memiliki pandangan sendiri dalam memandang orang-orang di sekitarnya, situasi dan kondisi yang melingkupinya, dunia yang ia tinggali, sistem yang bekerja di sekelilingnya. Dan, tentu saja, manusia yang telah matang dengan konsep “aku” dalam dirinya akan mampu menjalin relasi baru dengan segala hal itu.

Sudahkah itu terjadi padamu?

Jawabku, Belum.

Sebab, sekalipun aku berkata bahwa proses ini tak akan pernah selesai, pada hakikatnya, aku adalah makhluk yang penuh keterbatasan, dalam bilangan usia maupun pemahaman akan hakikat.

Aku tak pernah memiliki keberanian yang utuh untuk meraih eksistensi yang otentik. Aku tak pernah berani menyatakan siapa diriku lewat keputusan-keputusan yang ku buat dalam menjalani pergulatan hidupku. Dan, kau masih bertanya: “Sudahkah kamu selesai dengan dirimu?”

Ah. Bisa kau berikan saja pertanyaan lain?

Dalam hening, kau bertanya: Apakah salah bila aku terus bertanya? Apakah salah bila aku terus berjalan mendekat?

Tidak, bila..

Bila?

Bila itu melanggar prinsip yang kamu yakini atau konsensus bersama yang telah kamu sepakati.

Kamu diam.

“Merasa bersalah?

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s