Karena Sungguh Sederhana


Aku mengenalnya sebagai seorang idealis yang penyabar. Dia sahabatku, tentu saja. Sudah enam tahun lebih dia mengharapkan jawaban pasti dari seorang wanita yang dikasihinya. Wanita yang namanya ia sebutkan dalam sujud terakhir, yang ia ingat ketika menghadiri akad, yang namanya ada di dalam hatinya di saat antara azan dan iqamat, yang namanya rutin ia sebut dalam setiap doa sehabis shalat, yang namanya terlintas dalam do’a dikala hujan. Wanita yang namanya selalu ia  sebut dalam sujud disepertiga akhir malamnya.

Ah, beruntungnya wanita ini. Pikirku. Tapi, seperti kebanyakan kisah di dunia. Tak semua berbalas indah, tak semua berjalan sempurna. Bahwa jawaban atas rasa yang selama ini ia tanam dan pupuk masih menjadi misteri. Dan dari semua misteri yang tak terungkap itu, ia masih kukuh yakin bahwa wanita ini adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan untuknya.

“Karena rasa tak pernah bohong, Al.” Begitu ungkapnya pada suatu ketika.

“Kamu pernah pacaran?” Tanyaku.

“Pernah, Al.”

“Kenapa kamu memperjuangkan seorang perempuan untuk jadi pacarmu? Mm, maksudku, apa alasan pertamamu memilih ‘dia’?”

“Kalau menurut saya kami nyambung kalau ngobrol, komunikasinya bagus, ya saya lanjut. Biasanya saya tertarik karena alasan itu.”

“Siapa yang duluan menyatakan?”

“Saya. Tapi paling si perempuan ini udah kasih kode kalau bakal nerima.”

“Kenapa kamu putus kalau komunikasi kalian lancar?”

“Banyak alasan si, Al. Itu mah kasuistik, tergantung.’

Aku mengangguk.. Oh begitu rupanya.

Lalu aku pun bertanya, “Bagaimana pendapatmu kalau aku meladeni orang-orang yang mulai mendekatiku? Di usiaku yang sekarang aku merasa tidak aman dengan masa depan percintaanku yang suram dan gelap. Tapi bagaimana aku tahu, bagaimana aku bisa membedakan mana perhatian teman, orang yang suka, orang yang iseng?”

“Yang serius itu ngajak nikah Al. Yang main-main itu ngga beneran ngajak nikah. Saya juga sedang belajar. Belajar move on dari orang yang saya suka selama enam tahun..”

“Lantas, kamu sudah berhasil?”

“Move on saya nunggu dia nikah, Al.”

“Jadi, orang yang gagal move on ini menasehati orang yang gagal move on lainnya untuk segera move on. Come on..”

“Saya masih punya kesempatan, Al. Lamaran saya belum ditolak.”

“Digantung lama gitu kok kamu kuat?”

“Karena cinta butuh perjuangan, Al.”

“Bukannya menunggu juga salah satu bentuk perjuangan?”

“Menunggu itu kesia-siaan, Al.”

Atau bisa jadi sebenarnya keduanya pernah mencoba menjalani kekinian masing-masing. Hingga di suatu kini masa lalu menyelinap hadir, dan rupanya ingatan masih kuat. Semua masih tersimpan rapi dan rapat.

“Pokoknya perjuangan saya berakhir saat dia menikah.”

“Menurutmu, naif tidak bila kita berharap seseorang berubah demi orang yang dikasihinya?”

“Yang pura-pura cuma bisa bertahan sebentar, Al.”

“Kalau terlalu berbeda kemungkinan gagalnya jauh lebih besar?”

“Allah punya rencana terbaik untuk hamba-Nya. Siapa yang tahu? Bisa jadi kemungkinan berhasilnya malah lebih besar. Yang pasti, Al. Selalu siapin hati kita kalau ternyata kisah kita ngga berakhir sempurna dengan seseorang yang kita suka. Kita boleh bersuka cita atas rasa cinta itu, tapi kita harus selalu siap saat perpisahan terjadi.”

“Kalau bahkan rasa itu tak pernah berbalas barang sedikit saja?”

“Cukup tahu dia baik-baik saja. Itu sudah lebih dari cukup buat saya..”

Backsound:

Karena sungguh sederhana, hakikat cinta (Tangga)

Satu tanggapan untuk “Karena Sungguh Sederhana

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s