Menyembuhkan Kabut Asap dengan Iman


Sebuah wilayah yang kelabu akibat kabut asap, aktivitas warga yang terusik, dan para pelajar yang tak lagi bisa datang menunaikan haknya untuk belajar di sekolah merupakan cerminan buram keadilan yang terbelenggu oleh ketamakan segelintir orang. Ketamakan segelintir orang ini tak hanya melukai manusia lainnya, tetapi juga melukai alam yang telah menghidupi diri dan nenek moyangnya selama ribuan tahun.

Apakah manusia berhak melukai alam sedemikian parahnya? Bukankah Allah telah mewahyukan dalam kitab-Nya, “Dan bila dikatakan kepada mereka: janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab: sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berbuat kerusakan, tetapi merka tidak sadar.” (Q.S Al Baqarah: 11-12)

Bila kita meyakini bahwa Allah telah menciptakan manusia di muka bumi sebagai khalifah, maka sejatinya kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga ciptaan Allah dengan sebaik-baiknya. Bukan malah bertindak aniaya (dzalim) terhadap alam dengan menjarah, membakar, merusak, dan mengeksploitasinya tanpa kendali.

Kadar keimanan seseorang bukan hanya tercermin dari kualitas hubungan peribadatannya dengan Allah (habluminallah) maupun kualitas hubungan muamalahnya dengan manusia (hablumminannas), tetapi juga berkaitan erat dengan bagaimana manusia berlaku terhadap alam. Iman mestinya mampu mendorong manusia untuk bergerak dan bertindak untuk menyelamatkan alam sebagai amanat dari Sang Pencipta.

Aksi solidaritas yang menggaung di media sosial, upaya penyelamatan hutan yang terbakar, bahkan rasa simpati yang menelusup saat menyaksikan penderitaan manusia dan alam melalui layar televisi merupakan bentuk iman manusia terhadap Allah. Iman itulah yang membuat batinnya terusik, kepeduliannya bangkit, dan ia terdorong untuk bertindak dan melakukan perbuatan menyelamatkan lingkungan. Bukan hanya untuk kepentingan bangsa dan negara, dunia dan alam semesta, tetapi wujud pengabdian tertingginya kepada Sang Pencipta.

Ah, tapi mungkinkah iman yang menggerakkan itu hadir dalam diri bila kita selalu bicara tanpa melibatkan kesadaran real? Lewat aksi solidaritas di media sosial, nyata terekam kepedulian yang besar dari setiap manusia yang memberikan kepeduliannya lewat foto ataupun komentar. Tetapi, sampai sejauh mana komentar dan keprihatinan yang ia ungkapkan juga menelusup ke dalam dirinya.

Pernah ada seseorang yang membuka video yang beredar di youtube tentang kabut asap yang kian parah. Ia termenung dan meneteskan air mata. Lalu ia membagikan video itu pada kawan-kawannya di dunia maya dengan tak lupa menuliskan keprihatinannya. Banyak komentar yang muncul di bawah postingan tersebut. Lalu waktu berjalan dan postingan itu tenggelam di bawah status dan unggahan foto perayaan ibadah tahunan agamanya. Tentang hikmah berkurban dan nikmatnya menyantap daging dengan segala macam olahannya. Ia tak tergugah sedikit pun dengan bencana kabut asap di pulau seberang saat kepulan asap berbau nikmat daging yang ia pangang menerbitkan air liurnya. Seseorang ini adalah penulis sendiri, tentunya.

Sementara, di televisi para penguasa menunjukkan welas asih dan keprihatinannya terhadap kabut asap yang melanda. Mereka datang tempat hutan yang terbakar, menunjukkan wajah prihatin, menghela nafas berat. Dan sekalipun terus dihujani dengan pertanyaan yang menghujat, masing-masing dari mereka terlihat begitu anggun memoles diri untuk menunjukkan bahwa mereka bersih dan telah melaksanakan tugas dengan baik. Bahkan dengan elegan menghadirkan dalang yang bertanggung jawab atas musibah ini melalui setiap perdebatan dan klarifikasi.

Bijak menyelamatkan alam bagi generasi kini dan kemudian hari adalah keniscayaan. Berpuasa dalam mengeksploitasi alam, berkorban nafsu duniawi demi menyembuhkan apa yang rusak adalah keharusan yang tak dapat ditawar. Semoga benar, ini merupakan perwujudan iman pada Sang Pencipta.

Sebagaimana telah Allah firmankan dalam kitab-Nya, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka Bumi sesudah Allah memperbaikinya..” (QS Al’Araf: 25)

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s