Notulensi Diskusi Dwi Pekanan KAMMI UNS: Tanggung Jawab Cendekiawan Muslim


Diskusi dwi pekanan KAMMI UNS memulai babak barunya Selasa (13/10) kemarin di sekretariat KAMMI UNS dengan mengambil tema Tanggung Jawab Cendekiawan Muslim. Diskusi ini dimoderatori oleh Firdaus Zulfikar, Kepala Bidang KP KAMMI UNS 2015.

Pengantar diskusi diberikan oleh Alikta dan Zulfi secara kolaboratif. Alikta menyoroti peran cendekiawan muslim yang selalu hadir dalam setiap zaman meskipun nama mereka jauh dari glorifikasi. Bahwa seorang cendekiawan berhak memilih jalan jihadnya masing-masing sebagai pilihan sadar atas perenungan kontempelatifnya. Zulfi menyampaikan secara definitif makna cendekiawan dan posisinya dalam strata sosial di masyarakat. Ia juga menyampaikan beberapa tokoh cendekiawan Islam yang telah memberikan sumbangan pemikiran dan karya bagi perkembangan khazanah keilmuan Islam.

Setelah pemaparan singkat, beberapa peserta diminta mengemukakan tokoh yang bagi mereka merupakan sosok cendekiawan yang patut menjadi teladan. Bagi Zulfi, sosok yang merepresentasikan seorang cendekiawan muslim adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka). Hamka adalah seorang sastrawan, muffasir, tokoh politik, sekaligus seorang mubaligh. Beliau adalah sosok inspiratif yang ‘komplit’.

Bagi Anwan, Habibie adalah sosok cendekiawan yang menjadi inspirasinya. Selain karena latar belakang keduanya yang sama-sama belajar engineering, bagi Anwan sosok Habibie adalah seorang yang futuristik. Ia mampu berpikir dua puluh tahun lebih maju dari usia biologisnya. Selanjutnya, Anwan memaparkan beberapa gagasan Habibie yang saat ini masih dikembangkan dalam bentuk proyek dan kebijakan. Bukan hanya mengandalkan kapasitas keilmuannya, Habibie pun terjun ke dunia politik dan menjadi inisiator terbentuknya ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia).

Isna menyandingkan Wachid Hasyim sebagai sosok yang layak mendapat predikat cendekiawan muslim. Wachid Hasyim adalah pemimpin basis massa terbesar di Indonesia kala itu, yakni Nahdatul Ulama. Wachid Hasyim mampu bergerak lintas sektor, baik di bidang pendidikan, keagamaan, hingga politik. Beliau adalah inisiator dari masuknya pendidikan umum ke pesantren. Di bidang politik, ia bergabung dengan Masyumi dan turut serta masuk Panitia Sembilan yang merancang dasar negara Indonesia yang bernafaskan Islam. Beliau juga yang membeli kapal dari Jepang agar jumlah jamaah haji dari Indonesia bertambah. Tak hanya itu, Wachid Hasyim pun mendirikan IAIN sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam yang keberadaannya terus eksis sampai hari ini.

Dalam dunia gerakan, sosok Lafran Pane dan Imaduddin Abdulrahim menjadi tokoh yang menurut Alikta layak menyandang predikat cendekiawan muslim. Lafran Pane adalah pendiri organisasi mahasiswa Islam pertama di Indonesia, yakni Himpunan Mahahasiswa Islam. Pendirian organisasi ini berawal dari kegelisahannya terhadap kondisi iklim keagamaan di kampusnya dan berkembangnya serekat mahasiswa berhaluan komunis di Yogyakarta dan Surakarta. Pendirian organisasi ini pun jauh dari hingar bingar. Hanya di sebuah ruang kelas, saat jam kuliah, disaksikan oleh tiga belas mahasiswa dan seorang dosen. Namun, organisasi ini segera saja menjadi organisasi mahasiswa Islam dengan massa yang besar. Imaduddin sendiri merupakan kader HMI yang menginisiasi terselenggaranya LMD di Salman ITB. Ini merupakan cikal bakal dari lahirnya Lembaga Dakwah Kampus di seluruh Indonesia. Hanya saja, beberapa orang kadang memandang sinis pada beliau karena isterinya tidak berjilbab.

Isna Maylani berujar bahwa menilai seseorang dengan hitam dan putih tidaklah proporsional. Pangeran Diponegoro yang selama ini kita kenal sebagai seorang pejuang dengan keluhuran budi yang luar biasa memiliki banyak selir.  Kita harus menerima itu sebagai fakta sejarah. Mayoritas dari kita tidak mau menerima apabila ada hal yang dirasa tidak pas, padahal menilai hitam-putih seperti itu tidaklah adil.  Semua orang di zaman itu memiliki latar belakang sosial yang berbeda dengan pemahaman tentang  Islam yang juga berbeda. Membandingkan Rahma el Yunusiyah dengan Kartini jelas tidak pas. Rahma el Yunusiyah lahir dan besar di Minang yang iklim keislamannya begitu kentara, sedangkan Kartini lahir dan besar di Jepara dengan tradisi abangan yang membentuk pribadinya. Setiap manusia berproses dengan cara yang berbeda. Jangan menyimpulkan terlalu cepat proses belajar yang sedang dilakukan oleh seseorang.

Alikta bersepakat dengan apa yang disampaikan oleh Isna. Proses yang dijalani oleh seseorang adalah proses seumur hidup. Nurcholis Madjid yang sempat digadang-gadang sebagai Natsir Muda malah segera dicap liberal sejak ia menyampaikan gagasannya tentang keharusan pembaruan pemikiran Islam pasca lawatannya ke Timur Tengah dan Amerika. Baginya, tidaklah pantas bagi kita untuk menghakimi proses orang lain. Bisa jadi, seseorang yang hari ini kita hujat tindakannya menjadi orang yang lebih baik dari kita di kemudian hari. Pun sebaliknya.

Astri memberikan tanggapan terhadap dinamika personal tersebut dan memberikan pertanyaan, “Bagaimana kita menyikapi perubahan itu?”

Hisyam berpendapat bahwa tak ada hal yang statis. Perubahan akan selalu ada. Perubahan adalah tantangan zaman. Yang tidak boleh berubah hanyalah Al-Qur’an dan as sunnah. Persoalan yang terkait muamalah tidak perlu dipertentangkan.

Isna berujar bahwa perubahan memang merupakan suatu keniscayaan, yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Kesukesan AKP yang dikomandani oleh Erdogan  saat ini pun merupakan buah dari perubahan itu sendiri. Asalkan sanad ilmunya jelas, bagi Isna perubahan merupakan keniscayaan. Perubahan dihasilkan dari hasil pembacaan yang mendalam. Bukan hanya teks, melainkan juga konteks ruang dan waktu.

Ufi kembali menyinggung sekularisasi yang menjadi gagasan Nurcholis Madjid, “Bukankah ia seorang cendekiawan muslim dengan sanad ilmu yang jelas? Lantas, dari mana kita tahu bahwa jika kita berubah, kita memang berubah ke arah yang lebih baik dan bukan sebaliknya?”

Menurut Alikta, banyak hikmah yang diambil dari gagasan Nurcholis Madjid. Sekularisme adalah pemisahan agama dan negara, tetapi sekularisasi versi Cak Nur tidaklah seperti itu. Menurut Cak Nur, sekularisasi adalah proses untuk memisahkan yang sakral dan yang profan. Setelah gagasan ini dilontarkan, banyak cendekiawan muslim pun yang turut berpikir dan menghasilkan gagasan tandingan. Akhirnya terjadi kontestasi yang sehat dan proses dialog yang bermakna. Edward Said, mengatakan bahwa hidup seorang intelektual adalah mengenai pengetahuan dan kebebasan. Nah, pertanyaan selanjutnya adalah, ‘bagaimana orang mengatakan kebenaran? Kebenaran yang mana?” Pengetahuan merupakan syarat, sedang proses dialog merupakan ikhtiar untuk menemukan jawaban. Kebebasan seorang muslim dilandaskan pada nilai-nilai profetik, atau nilai-nilai kenabian. Dosa paling besar seorang intelektual adalah apabila ia tahu apa yang seharusnya dikatakan, tetapi tidak mengatakannya.  Orang seperti ini layak disebut sebagai pengkhianat intelektual.

Hisyam memberikan tanggapan bahwa pegangan dasar seorang muslim adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ada hal-hal yang sifatnya tsawabit dan hal-hal yang sifatnya mutaghoyirot. Dalam gerakan kita, Islam adalah asholah. Jangan sampai kita menyimpang dari asholah ini sampai kapan pun. Tapi, kita juga tidak boleh bersikap jumud.

Sebagai penutup, Zulfikar mempersilakan peserta berpikir secara mendalam tentang peran yang harus diambil sebagai seorang cendekiawan. Pada intinya, kaum terdidik memiliki tanggung jawab moral sebagai seorang cendekiawan. Namun, peran apa yang dipilih dalam mengimplementasikan tanggung jawab itu menjadi pilihan masing-masing personal.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s