Diskusi Pekanan KAMMI UNS: Meredefinisi Relasi Islam dan Negara


Diskusi pekanan KAMMI UNS kembali diselenggarakan Jum’at, 23 Oktober 2015 di halaman depan sekretariat KAMMI UNS dengan mengambil tema “Agama (Islam), Negara, dan Sekularisme”.

Pengantar diskusi disampaikan oleh Zulfi. Ia menyampaikan bahwa gagasan tentang sekularisme muncul saat Martin Luther melakukan kritik terhadap otoritarianisme gereja. Sekularisme sendiri terdiri dari dua jenis, yakni sekularisme yang bersifat asertif dan sekularisme yang bersifat akomodatif. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana bila Islam dibenturkan dengan sekularisme? Bukankah Islam merupakan sistem integral yang tidak mengenal pemisahan antara agama dan negara?

Alikta mengafirmasi bahwa memang Islam adalah sistem yang syumul dan integral, artinya Islam bukan hanya mengatur perkara ibadah dan muamalah, tetapi juga hubungannya dengan negara. Beberapa kalangan menganggap bahwa sekularisme (sekularisasi) adalah keharusan sebab formalisasi syariat Islam melalui negara yang sarat dengan hal-hal politis justru menegasikan kesakralan agama itu sendiri. Beberapa lainnya cukup akomodatif dengan membentuk partai politik bermassa Islam dengan ideologi sekuler agar bisa masuk ke struktur kenegaraan dan memperjuangkan ‘kepentingan umat’, hanya saja kita harus mafhum bahwa kepentingan lain pun dipertarungkan di sana. Sementara, beberapa yang menolak secara total nyatanya tak begitu terdengar suaranya selain melalui konferensi dan propaganda media. Ia lebih terlihat seperti perlawanan simbolik daripada solusi rasional atas persoalan stru ktural. Dalam pandangannya, ia cukup pesimis dengan jalan perjuangan yang terakhir ini.

Menurut Adhytiawan (HMI), tantangan kita hari ini adalah hilangnya semangat umat. Jumlah umat Islam sangat banyak, demikian pula jumlah masjid, tapi seperti sabda Rasul: hanya seperti buih di lautan. Bicara tentang sekularisme, maka kita tak akan lepas dari sosok Nurcholis Madjid. Cak Nur adalah cendekiawan muslim yang menjadi representasi ideal pemuda Islam kala itu. Tetapi, mengapa ia justru melontarkan keharusan sekularisasi setelah lawatannya dari Amerika? Pada saat itu, Indonesia masih mencari jati diri, HMI yang dekat dengan ideologi Ikhwanul Muslimin pun diarahkan untuk mendukung gagasan Islamic State. Ide Cak Nur merupakan perlawanan atas ide Islamic State itu. Memang idenya menjadi polemik berkepanjangan dan cukup kontroversial, sebab pasca itu merebaklah gagasan tentang Islam Fundamental, Islam Radikal, Islam Pembebasan, Islam Liberal, dan lain-lainnya. Setelah isu sekularisme di tahun-tahun 80an, sekularisme ini nyatanya bertransformasi menjadi Islam Nusantara yang gagasannya menguat kembali belakangan ini. Hal ini juga merupakan respon terhadap kegagalan negara-negara Arab yang hanya menjadikan Islam sebagai stempel, bukan nilai yang hidup di tengah-tengah masyarakatnya.

Zulfi berargumen bahwa mau tidak mau, saat ini kita memang harus lebih ‘pragmatis’. Menghindarkan yang mudharat lebih dianjurkan daripada mengejar yang maslahat. Karena itu, muncullah terminologi pos-Islamisme yang meskipun banyak mendapat kritikan, tetapi rasanya cukup tepat untuk menggambarkan kondisi saat ini. Lantas, bagaiman bila saat ini kemudian muncul beberapa negara yang meskipun menerapkan sistem pemerintahan sekuler, tetapi negara dipimpin oleh orang religius, sehingga negara tersebut Islami secara value? Bagaimana apabila negara-negara ini kemudian membentuk suatu aliansi global? Apakah aliansi ini bisa kita samakan dengan daulah islamiyah? Lebih lanjut, Zulfi berpendapat bahwa terminologi khilafah formatnya memang belum pasti, sifatnya furu’ dan memang harusnya disesuaikan dengan semangat zaman. Menjadikan demokrasi sebagai alat adalah pilihan yang rasional. Perlawanan simbolis untuk bersikeras menegakkan daulah dengan jalan revolusi itu malah yang memperlambat gerak kita.

Rizky kembali menyinggung soal integralisme ajaran Islam. Islam dan negara adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Dan seharusnya, kita tak perlu ragu memunculkan identitas keislaman kita dimana pun. Meskipun ide-ide sekularisme kembali menguat, umat Islam harus menguatkan kembali aqidahnya. Apalagi Indonesia merupakan negara yang didominasi muslim. Tentunya, ini akan menjadi kekuatan yang besar di kemudian hari.

Pandu berujar bahwa yang kita butuhkan saat ini adalah sosok yang bisa menjadi teladan, selain tentu saja persatuan umat Islam. Ia menyinggung beberapa perpecahan yang muncul di kalangan umat Islam dewasa ini dan terlembaga dalam pola pikir masyarakat. Ia berharap ragam kelompok aliran kembali bersinergi melawan sekularisme.

Alikta berpendapat bahwa sekalipun geliat keagamaan di kampus menguat dengan munculnya simbol-simbol keagamaan seperti ramainya kajian keislaman dan lautan jilbab yang kini menjadi hal yang lumrah, tetapi agaknya akan sulit bagi kita untuk bergerak beriringan. Sebab, setiap gerakan pun telah memiliki fikrah dan thariqah yang berlainan satu sama lain.

Zulfi menganggap bahwa perbedaan adalah hal yang wajar, perlu kedewasaan untuk melenyapkan ego-ego sektoral masing-masing kelompok aliran itu.

__________

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s