Aranya Kandha


Alkisah, seorang begawan bernama Yogiswara telah mempersembahkan seluruh sisa hidupnya guna berdo’a pada Sang Hyang Wenang  untuk melenyapkan Rahwana dari muka bumi karena kerusakan yang telah diperbuatnya di Hutan Dandaka. Doa Yogiswara membuat para dewa bersepakat untuk membuka jalan bagi Dewa Wisnu menitis pada putra yang kelak akan dilahirkan oleh Kusalya, pewaris sah Negeri Ayodya. Putra Kusalya dan Prabu Dasarata yang dinamai Rama inilah yang akan ditakdirkan membunuh Rahwana di kemudian hari.

Rama tumbuh menjadi seorang pemuda tampan dan berwatak satria. Ia menjadi teladan bagi ketiga adiknya, yakni Bharata, Laksmana, dan Satrugna. Meskipun berbeda ibu, putra-putra Prabu Dasarata ini hidup rukun dan damai.

Pada suatu ketika, begawan Yogiswara menghadap Raja Dasarata guna mengadukan sepak terjang raksasa Alengka yang merusak kedamaian di pertapaan. Ia meminta Sang Raja mengutus Rama untuk melawan para raksasa tersebut, sebab hanya titisan Dewa Wisnu sajalah yang dapat mengalahkan mereka. Meskipun awalnya keberatan, pada akhirnya Raja mengabulkan permintaan tersebut dan mengutus Rama pergi menuju pertapaan. Singkat cerita, Rama berhasil mengalahkan pasukan Alengka. Marica, salah seorang punggawa Rahwana berhasil kabur ke laut dan melaporkan peristiwa tersebut pada rajanya.

Setelah mengalahkan pasukan raksasa Alengka, Rama menetap di pertapaan untuk berguru keutamaan hidup pada begawan Yogiswara. Sang Begawan mengutus Rama mengikuti Sayembara Mantili guna meminang Dewi Sinta. Sinta sendiri kabarnya merupakan titisan Sri Widawati, isteri Dewa Wisnu. Setelah menemui Brahmana Kala dan membuktikan bahwa dirinya merupakan jelmaan dari Dewa Wisnu, ia segera menuju Negara Mantili. Dengan mudah, ia memenangkan sayembara tersebut dan meminang Dewi Sinta.

Di tengah perjalanan Rama memboyong Sinta ke Ayodya, ia dihadang oleh Ramaparasu. Ramaparasu merupakan seorang yang telah dianugrahi berkat untuk tetap hidup di dunia hingga Dewa Wisnu sendiri yang mengantarnya ke Nirwana. Ia yang menganggap Rama sebagai jelmaan Dewa Wisnu memintanya mematahkan senjata pamungkas Bargawastra, dan mengantarnya ke Nirwana. Beberapa mengatakan bahwa Rama mengabulkan permohonan tersebut, beberapa lainnya mengatakan bahwa Ramaparasu tetap hidup dan menjadi guru bagi Dewabrata dan Kumbayana.

Sesampainya di Ayodya, Rama yang sedianya akan dinobatkan sebagai putra mahkota mendapat penolakan dari Kekayi, isteri kedua Raja Dasarata. Kekayi meminta agar Raja Dasarata menepati janjinya untuk menjadikan anaknya, Bharata menjadi pewaris tahta Ayodya dan mengusir Rama dari istana selama tiga belas tahun. Dengan berat hati, Dasarata mengabulkan permintaan tersebut dan segera setelahnya, ia mangkat. Sementara itu, Rama, Sinta dan Laksmana segera meninggalkan Ayodya menuju Gunung Citrakuta. Bharata yang merasa bahwa Rama merupakan pewaris sah tahta mengejar kepergiannya. Namun, Rama enggan kembali ke Ayodya sebab baginya, sabda raja adalah titah, dan ketidakpatuhan pada titah tersebut akan menjadi malapetaka bagi sebuah negeri.

Sarpakenaka yang ingin membalas dendam atas kematian para punggawanya di pertapaan begawan Yogiswara mengurungkan niatnya usai melihat ketampanan Rama. Ia menyamar menjadi gadis cantik dan menggodanya, tapi Rama enggan sebab ia telah beristeri. Ia beralih pada Laksmana, namun Laksmana yang telah berjanji untuk tak menikah menolaknya dengan kasar hingga mematahkan hidungnya. Sarpakenaka yang murka segera pulang ke Alengka dan memfitnah Rama dan Laksmana, ia juga menghasut Rahwana, kakaknya untuk menculik Sinta yang cantik jelita. Rahwana tergiur, dan dengan segenap pasukannya, ia menuju Hutan Dandaka guna menjalankan rencana yang telah disusun oleh Marica.

Marica menyamar menjadi seekor kijang emas yang menggoda Dewi Sinta. Dewi Sinta tertarik dan meminta Rama untuk menangkapnya. Dewi Sinta kemudian ditinggalkan Rama dan dijaga oleh Laksamana. Rama pun pergi memburunya, tetapi Marica sangat gesit. Lalu iapun menjadi kesal dan memanahnya. Marica menjerit kesakitan lalu mati dan wujudnya kembali menjadi raksasa.

Sementara itu Sinta yang mendengar jeritan tersebut merasa cemas dan mengira bahwa jeritan itu adalah jeritan Rama. Lalu ia menyuruh Laksamana untuk mencarinya. Laksamana menolak tetapi Sinta malah menuduhnya ingin memperistrinya jika Rama mati. Maka ia pun terpaksa pergi, tetapi sebelumnya membuat sebuah lingkaran sakti sekeliling Sinta supaya jangan ada yang bisa menculiknya. Segera setelahnya, Rahwana datang menyamar sebagai seorang tua dan memanggil Sinta yang langsung diculiknya.

Garuda sakti bernama Jatayu menghadang Rahwana dalam perjalanannya melarikan Sinta. Tetapi, Jatayu kalah dan sekarat. Jatayu memberikan petunjuk jejak kepergian Sinta yang telah diculik oleh Rahwana. Sebagai penghormatan atas jasanya, Rama menumbuhkan kembali bulu-bulu Jatayu yang dulunya sempat terbakar akibat perlombaannya dengan Sempati yang membuat marah Batara Surya. Namun, cerita lain menyebutkan bahwa ia menjemput kematiannya segera setelah ia memberikan petunjuk keberadaan Sinta pada Rama dan Laksmana.

Araya-Kandha merupakan bagian ketiga epos Ramayana yang mengisahkan kesejatian Rama sebagai titisan Dewa Wisnu melalui serangkaian cerita yang bila dipentaskan dalam sendratari kita kenal dengan Sayembara Mantili, Astabrata, serta Sinta Ilang.

Sumber bacaan:

Pratikno, Herman. 2011. Hamba Sebut Paduka Ramadewa, Teladan Cinta dan Kehidupan Rama-Sinta. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

http://blog.isi-dps.ac.id/suartana/cerita-ramayana

https://id.wikipedia.org/wiki/Aranyakanda

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s