Menghitung Hari


Sejak aku berkata, “Ya, aku bersedia”, aku tahu bahwa kehidupan yang akan kujalani tak akan sama lagi. Bahwa kini aku berkejaran dengan waktu yang tak lagi memanja. Bahwa kini aku menempa diri menuju dewasa. Bahwa kini aku mesti memantapkan hati untuk merasa cukup atas segala.

Aku paham. Bahwa sejak aku mempertanyakan kembali komitmen yang kamu bawa, sejatinya aku sedang bertanya pada diriku sendiri, “Sanggupkah aku menjadi lahan subur tempat kamu menumbuhkan jutaan kebaikan nan berkah?”

Aku tak pernah mampu menjawabnya, sebagaimana aku tak pernah bisa mengurai makna atas gurat senyum bahagia di bibirku setiap kali terjaga. Sebagaimana aku yang tak mampu menggambarkan dengan jeli makna tangis yang selalu membanjir dalam setiap sujudku.

Duh, sanggupkah aku menjadi hangat yang mendekapmu saat dingin menerpa?

Aku tak akan pernah bisa menjawabnya. Sebagaimana aku tak bisa menjelaskan mengapa hari terasa begitu cepat dan lambat di saat yang bersamaan. Seperti aku yang tak bisa menguraikan, mengapa letupan gelisah tak pernah mau pergi sepanjang hari..

Aku hanya ingin menjadi pelabuhan yang pertama dan terakhir untuk kamu. Kamu akan segera berlabuh, sebentar lagi, aku sedang menghitung hari jelang hadirmu dan keluargamu.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s