Mahar?


Kamu bertanya syarat yang mungkin aku ajukan dan mahar yang ku inginkan. Aku mengajukan dua syarat, Pertama, jika bukan karena kondisi yang benar-benar sulit, jangan pernah meninggalkanku dalam waktu yang lama. Kedua, jangan pernah terlintas sedikit pun dalam pikiranmu untuk menikah lagi. Terpikir sedikit juga ngga boleh. Nggak boleh. Nggak boleh ya. Sama sekali nggak boleh. Kamu menyanggupi.
Mahar?

Aku sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini jauh hari sebelum kamu datang dalam kehidupanku.

“Aku percaya, kamu tahu mahar terbaik untuk aku, calon isterimu. Aku akan menerima apapun bentuknya. Menerima seutuhnya dengan sepenuh-penuh penerimaan.”

Jawabmu kemudian: Insya Allah, Al.

Tak ada yang lebih indah dari ini, tak pernah..

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s