MENAHAN DIRI


Menyebalkan sekali bahwa pesan pendek yang kamu kirimkan di hari ketika kamu membawa keluargamu untuk melamarku adalah, “Aku agak lupa rumahmu…” Boleh aku jitak kamu tidak, hah? Aku yang sudah menenangkan diri sejak kepulanganku dari Solo beberapa waktu sebelumnya kembali panik. Jadi, aku mewanti-wanti kamu, bukan hanya sekali. Kubilang, “Jangan nyasar.. Please, jangan nyasar. Nggak boleh nyasar ya.”

Kamu datang sedikit terlambat dari rencana. Kadar kepanikanku pun semakin memuncak. Setiap kali mendengar suara mobil berderit di jalan depan rumah, setiap itu juga degup jantungku memburu.

“Ma, itu siapa?”

“Bukan, An.”

“Ma, itu siapa?”

“Belum datang, An.”

“Ma…”

“An, sudah datang. Aann!!”

Aku terlonjak. Bukannya berlari menyambut hadirmu yang sejak pagi kutunggu, aku malah bersembunyi di balik punggung Bapak. Kupegang tangannya erat sembari memohon, “Pa, aku di belakang saja ya…”

Tapi, kadar kejahilan Bapak memang itu di atas rata-rata. Ia malah menyodorkanku maju di depan pintu untuk menyambut kamu dan keluargamu. Boleh tidak hari ini aku pakai cadar? Bolehkah aku pinjam jubah ghaib Harry Potter? Saking malunya, aku ingin menghilang saat itu juga. Malu-malu aku bersalaman dengan ibumu, sosok yang kini akrab ku panggil Ibuk.

“Apa kabar Mba Alikta?” Ibuk menyapa hangat.

Alhamdulilllah, Buk..” jawabku canggung.

Ibuk tersenyum hangat. Bapak juga. Kamu juga. Sembari menangkupkan tangan di depan dada, aku membalas senyum kamu.

Keluarga kita saling berkenalan, tapi yang terlintas di telingaku hanyalah suara-suara asing yang entah berasal darimana. Aku membisu di kursi, berkeringat dingin dan gemetar menghadapi ini semua. Serius, Al? Hari ini kamu… dilamar?

Semua berjalan dengan lancar. Dua kali ibuk bertanya kemantapanku menerima kamu, dua kali juga beliau memelukku. Aku tidak tahu mana yang lebih indah: keridhoan orangtuamu menerimaku atau kenyataan bahwa orang yang datang melamarku hari itu adalah kamu. Dua-duanya adalah berkah, dua-duanya adalah anugrah.

Menuliskan ini kembali membuat tanganku gemetar hebat. Dua minggu sebelumnya aku tak pernah berpikir bahwa hari itu akan tiba. Dua minggu sebelumnya semua ini adalah ketidakmungkinan paling nyata dalam hidupku. Lalu, takdir-Nya membuat semua ini menjadi mungkin, ketetapan-Nya membuat semua ini menjadi nyata.

Tak ada yang benar-benar berubah selama proses ini. Aku masih sama seperti dua pekan lalu sebelum secara pribadi kamu melamarku. Kecuali bahwa kita sama-sama menunggu hari saat kamu berikrar mengucap akad, tak ada yang berbeda dari hubungan kita.

Kamu selalu mengingatkanku untuk menjaga agar proses yang kita jalani berada dalam koridor yang syar’i. Jadi, aku tak berharap bahwa aku akan mendapati pesan pendek berisi ucapan: Selamat pagi. Sudah makan? Sedang apa? Apa kabar? yang sengaja kamu kirimkan lewat chat atau pesan pendek. Canggung sekali.

Tetapi, beberapa hari berselang setelah lamaran, aku mengalami semacam kepanikan akut. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak menghubungi kamu, bertanya ini-itu, dan memastikan segala sesuatu. Ini jauh lebih berat dari persoalan menjaga hati saat kita masih sama-sama belum terikat. Perasaanku jauh lebih rumit karena di satu sisi aku merasa telah terikat denganmu, sedang di sisi yang lain kita belum meresmikan ikatan itu dalam pernikahan yang sah.

Terima kasih, karena seperti yang sudah-sudah, kamu menjaga proses ini berjalan dalam koridor yang benar, mengingatkanku dengan cara yang baik untuk menahan diri dari obrolan yang tak bermanfaat, dan meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja.

Aku tahu, kamu benar. Semua akan baik-baik saja. Seperti do’a ibuk di hari miladnya,

“Moga niat baik Mas Didit dan Mba Alikta mendapat ridho dari Allah. Ibuk selalu berdoa moga Allah selalu menunjukkan jalan yang lurus dan memudahkan segala urusan anak-anak ibuk tercinta..”

Semua akan baik-baik saja. Insya Allah.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s