MENUMBUHKAN KESIAPAN


 

“Sesungguhnya di tengah kaummu pasti ada para wanita yang bisa engkau nikahi dan di kalangan kaumku pasti ada lelaki yang setara dan kapabel untuk menikahi diriku. Akan tetapi, ketika Allah menetapkan suatu perkara maka perkara itu pastilah terlaksana sesuai kehendak-Nya.” (Ucapan isteri Syuraih di malam pertama pernikahannya, diriwayatkan oleh Asy-Sya’bi)

Engkau telah melibatkan Sang Illah dalam memilihku. Bagiku, pilihanmu adalah kemuliaan tak terperi. Dia pun telah menetapkan kehendak-Nya. Dan aku menerima ketetapan-Nya dengan penuh rasa syukur.

Jauh hari sebelum kamu datang, aku selalu bertanya siapakah kamu, sosok yang akan melengkapiku di kemudian hari. Saat kamu benar-benar datang, giliranku yang bertanya pada diriku sendiri: siapkah aku?

Berhari-hari aku merenungi segala kekurangan yang melekat pada diri, tak berkesudahan sesalku kenapa selama ini abai tentang kesiapan, gengsi dan masa bodoh membahasnya dalam obrolan keseharian.

Secepat ini? tanyaku. Bersegera lebih baik, agar barokah. Katamu. Aku takluk oleh kemantapanmu. Maka, dengan sedikit tergesa aku berusaha memperbaiki segalanya.  Kamu tahu, tak mudah untukku melakukannya. Bahkan, sekali pun aku mengatakan bahwa aku sudah berusaha, sampai detik ini pun aku masih begini-begini saja.

Lalu, keraguan kembali berbisik. Ia datang dalam diam, mengendap tanpa permisi. Membuatku kembali bertanya pada diri: Sudah benarkah keputusanku, keputusan kita? Beban akademis yang masih harus aku tuntaskan, mimpi-mimpi yang belum terjamah jemari asaku, rencana-rencana yang masih jauh terhampar di depan mata. Ah, betapa. Haruskah secepat ini?

Lalu, ketakutan lain menyergap. Bagaimana bila aku menjadi beban untukmu di kemudian hari? Bagaimana bila kelak kamu menyalahkanku atas kesediaanku?

Ada mimpi-mimpi besar yang ingin kamu raih, rencana-rencana yang ingin kamu wujudkan, perjalanan yang ingin kamu tuntaskan. Akankah aku mengacaukannya seperti selama ini aku mengacaukan berbagai hal dalam hidupku? Bagaimana jika kesalahan kecil yang aku buat berdampak begitu besar dalam hidupmu? Maukah kamu memaafkanku? Sudikah kamu tetap menerimaku?

Perasaan-perasaan itu terus bermunculan bahkan setelah keluarga kita bertemu untuk menentukan hari baik itu. Terbersit keinginan untuk berbagi segenap kegelisahan denganmu, tetapi seperti katamu dulu, kita harus tetap menjaga komunikasi selama masa penantian ini berjalan dalam koridor yang benar. Maka, pada Allah lah aku kembali. Melabuhkan segenap kegelisahan yang melanda. Memohon pada-Nya terang di ujung malam. Berharap Dia merengkuhku dalam kesiapan yang nyata, keberanian yang utuh, dan penerimaan yang hakiki.

Aku harus sadar dan paham, bahwa keberanian mengambil keputusan ini bukanlah perkara remeh. Lebih berat bagimu, tentunya. Kamu harus mengorbankan kebebasanmu demi seorang perempuan yang tak punya hubungan kekerabatan apapun denganmu. Kamu harus bertangggung jawab secara penuh pada seorang perempuan yang mendadak hadir dalam hidupmu untuk kamu sebut sebagai isteri. Kamu menjadi pakaian untuknya, seperti ia menjadi pakaian untukmu. Kamu menjaga kehormatannya, seperti ia menjaga kehormatanmu. Kamu berkewajiban menjadi pemimpin baginya, menafkahinya, membimbingnya. Berat sekali ya? Tuh kan, aku merasa jadi beban lagi untuk kamu.

Kesadaran itu membuatku mengerti, bahwa sekali lagi, ini bukanlah keputusan yang mudah. Kita paham bahwa tanggung jawab kita akan jauh lebih berat. Tapi, beranggapan bahwa jalan di depan sana adalah bukit terjal, hutan rimba, semak belukar, jalanan yang berbahaya, terlalu menakutkan, ya?

Padahal, dari jarak sejauh inipun aku sudah bisa menghirup aroma bahagia yang menebar semerbak harum. Aku sudah bisa merasakan kasih dalam do’a yang dipanjatkan kedua orangtua kita. Hei, sebentar lagi aku akan punya dua ayah dan dua ibu. Kamu juga kok. Menyenangkan sekali, kan?

Dan, fakta terbaik yang sering aku lupakan adalah menganggap kamu sebagai orang yang benar-benar baru dalam hidupku, padahal kamu temanku, teman sekelasku dulu. Apalagi yang perlu aku khawatirkan? Kita tahu sama tahu lah ya, seperti apa kita saat remaja. Kelakuan nakal dan labil di masa yang lalu akan jadi bumbu renyah dalam setiap obrolan dan tawa kita nantinya. Seru sekali!

Hera, sahabat baikku, pernah berkata, “Sebelum kamu ingin diterima oleh orang lain, kamu harus menerima dirimu sendiri.” Kamu sepakat dengan apa yang dikatakannya? Aku sepakat. Sangat. Aku sudah menerima kamu, sepenuhnya, seutuhnya. Tetapi, aku belum menerima diriku sendiri. Butuh waktu yang lebih lama mengatasi ini. Aku berharap waktu lebih bersahabat untuk menghadirkan ruang penerimaan, bukan hanya untukmu, tetapi juga untuk diriku sendiri.

Semangat!

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s