SALING MENGANDALKAN  


 

Rasulullah saw bersabda, “Maukah kamu kuberitahu tentang perbendaharaan harta seseorang? Isteri yang shalihah, yang ketika dia memandangnya maka isterinya itu menjadikannya gembira, ketika dia menyuruhnya maka sang isteri menaatinya, apabila suami tidak ada di rumah maka sang isteri menjaga kehormatannya.” (HR. Abu Dawud)

Yakinkah kamu bahwa aku bisa menjadi perhiasan dunia paling indah bagi kamu? Ya Rabb, wanita shalihah? Sudah sejauh mana aku berbenah? Sekuat apa aku bertahan menapaki jalan-jalan kebaikan yang telah Allah hamparkan di muka bumi? Baiklah, aku akan berusaha. Ada kamu dalam proses belajar sepanjang hayat ini. Bersama, kita akan memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Iya, kan?

Bukankah menakjubkan bahwa dalam hidupmu kamu berjumpa dengan seorang aku yang merupakan separuh kamu? Bukankah melegakan bahwa pada akhirnya kita dapat saling menemukan?

Banyak orang di luar sana yang juga menemukan separuh bagian dirinya pada diri orang lain. Kamu menemukannya ada padaku. Artinya apa? Kamu harus punya cadangan kesabaran yang lebih besar dalam membimbingku nanti. Itu saja bedanya. Hehe.

Rasulullah pun telah bersabda, “Berwasiatlah untuk berbuat baik pada wanita. Karena seorang wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Bila engkau meluruskan maka dia akan patah, dan bila engkau tinggalkan, ia akan tetap bengkok.”

Maka, bersabarlah. Bersabar dalam sebaik-baik takwa pada-Nya. Dengan terus bersandar pada kepasrahan dan ketundukan utuh untuk menjadikan pernikahan ini sebagai ibadah, membawa biduk rumah tangga ini sebagai jalan kita menggapai jannah-Nya. Berusaha mewujudkan kehidupan berkeluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah, serta barokah.

Aku percaya, kita sama-sama sepakat bahwa parameter keberhasilan berumah tangga tidak hanya ditentukan oleh sisi materi duniawi saja, perlu bagi kita menghidupkan kemurnian ikatan atas dasar aqidah dan keimanan. Membingkainya dalam keluwesan dan penghargaan atas hak dan kewajiban antara suami dan isteri. Saling menasehati dalam kesabaran dalam peran kita sebagai ayah dan bunda di kemudian hari. Hingga pada akhirnya, mengabadikan keridhoanmu padaku sebagai penerimaan tertinggi dalam kebersamaan kita selama menjalani kehidupan bersama.

Setelah ikrar suci itu kau ucap, peran dan tanggung jawabmu akan semakin bertambah. Sebagai pribadi muslim, suami, sekaligus ayah (insya Allah), kamu memiliki tanggung jawab yang besar dan berat di hadapan-Nya. Kamu akan ditanya tentang pertanggung jawabanmu dalam memimpin keluarga yang akan kita bina. Bisakah engkau memimpinku menjadi pribadi yang lebih baik? Bisakah kau menjadi nahkoda handal yang bisa membawa bahtera ini sampai ke tujuan? Mampukah kamu menjadi qudwah (teladan) bagi aku, bagi keluargamu?

Tentu saja, ini bukan hanya tentang kewajibanmu. Segalanya bermuara kembali padaku. Bisakah aku menunaikan kewajibanku sebagai isteri sekaligus ibu kelak? Mampukah aku  menjadi rumah kembali bagimu, yang saat kau memandangku maka hatimu menjadi tenteram? Dapatkah aku menjadi orang yang paling kamu percaya, yang bisa menjaga rahasiamu sekaligus kehormatanmu?

Sejak aku berkata, “Ya, aku bersedia.” Aku percaya bahwa aku bisa mengandalkanmu. Tentu, kamu juga harus percaya bahwa aku bisa kamu andalkan.

Percayalah.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s