Tentang Kamu Dulu dan Kini


Bagaimana aku mendeskripsikan dirimu yang dulu ku kenali? Atau, tolong katakan darimana kiranya aku harus memulai? Kita menjalani pertemanan yang wajar, sewajar aku menjalani pertemanan dengan beberapa kawan kita di kelas. Kamu membangun lingkaran pertemananmu dengan jajaran siswa berprestasi, sedang aku nyaman bersenda gurau dengan beberapa kawan sembari mengingat, “ada tugas apa ya besok?”

Dua tahun kita menjadi teman sekelas, tak begitu banyak kenangan yang bisa kugali untuk mendeskripsikan pribadimu yang dulu ku kenali. Mungkin, karena kamu tak terlalu banyak bicara, sedang aku terus saja mengumbar cerita.

Tentu, kamu orang yang sangat baik. Teman-teman kita pasti sepakat dengan penilaianku. Tak pernah sekali pun kamu berkata kasar, memulai pertengkaran, atau bahkan bertindak jahil yang kelewatan. Yang jelas, cukup menyenangkan menjadi kawanmu semasa SMA.

Pertemanan yang normal itu berlanjut hingga masa SMA usai dan kita memilih jalan kita masing-masing. Kamu melanjutkan studi ke Jogja, aku ke Solo. Jarak Jogja-Solo yang bisa ditempuh selama satu jam perjalanan ternyata tak sejauh jarak yang terentang antar dunia kita. Dunia kita yang teramat jauh berbeda. Hmm, setelah ini, kita mesti berjuang keras membangun jembatan pemahaman untuk menghubungkan dua dunia yang amat berbeda ini.

Pribadimu yang ku kenal sejak beberapa bulan belakangan adalah pribadi yang penuh kejutan. Mendadak kamu melamarku. Dua pekan berselang, kamu membawa keluargamu ke rumahku untuk mengkhitbahku. Di rumahku, kamu meminta izin untuk melangsungkan akad segera setelah aku pulang KKN. Mungkin, kamu juga terkejut. Sebab, aku terus mengiyakan segala permintaanmu dengan demikian mudahnya.

Tapi, Dit, mungkin pesan pendek dari temanku pada 23 November 2010 ini bisa menjadi jawab atas segala.

“Sebaik apapun rencana kita, jauh lebih indah rencana Allah untuk kita.”

Aku tak ingat obrolan dalam konteks apa yang membuat salah seorang temanku mengirimiku pesan pendek ini lima tahun lalu. Yang jelas, tanpa pernah ku duga, tanpa pernah ku rencanakan, tepat lima tahun kemudian, pada 23 November 2015, aku membalas pesan itu dengan, “Ya, aku bersedia.”

Jangan bingung.

Memang, sejak enam setengah tahun lalu, aku punya kegemaran aneh: mengabadikan pesanmu dalam tulisan.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s