Menjadi Keluarga


Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna adalah keluarga. Mutiara tiada tara adalah keluarga.
(Ost Keluarga Cemara)

Saat aku masih kecil, aku selalu senang menonton sinetron Keluarga Cemara yang disutradarai oleh salah seorang penulis favoritku, Arswendo Atmowiloto. Sinetron ini berkisah tentang pergulatan hidup yang dialami oleh sebuah keluarga sederhana yang terdiri atas Abah, Emak, serta ketiga anaknya, yaitu Euis, Ara, dan Agil.

Dari beratus episode yang ditayangkan, semuanya berkisah tentang satu hal. Yakni kebijaksanaan hidup sebuah keluarga dalam menyikapi segenap persoalan yang melanda. Sinetron ini sepi dari hiruk pikuk gemerlap modernitas, ia justru menghadirkan potret kesederhanaan yang memikat.

Melalui konflik dalam setiap episodenya, aku belajar bahwa keluarga merupakan satu-satunya rumah kembali paling nyaman, tempat berlindung paling aman, pelabuhan tempat berlabuh dan bersandar paling dinanti. Keluarga adalah segalanya, karena dari keluarga lahir pula segalanya. Kebaikan yang menjadi nilai utama sebuah keluarga akan melahirkan cabang-cabang kebaikan lain yang dialirkan terus menerus, tanpa henti.

Sebagai keluarga yang demokratis, mereka senantiasa melakukan refleksi untuk memaknai pengalaman hidup yang telah dilalui. Segala harap, asa, kecewa, suka dan duka menjadi bahan bakar utama dalam menjalani hidup sebagai bentuk kepasrahan dan ketundukan mereka pada Sang Pencipta.

Bersama pemahaman yang baik, setiap anggota keluarga menjalankan perannya di masyarakat dengan teramat luwes, tulus, terbuka, dan rendah hati. Mereka mengajarkan arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Kebahagiaan yang lahir dari penerimaan dan syukur atas apa yang dimiliki, bukan apa yang tak dimiliki.

Kebahagiaan ini tentulah lahir dari cinta sejati. Cinta yang bersemi dalam kelembutan, kesabaran, perbaikan diri, penerimaan yang tulus, serta keikhlasan. Kita akan sama-sama belajar dalam menumbuhkan dan merawat cinta kita, kan?

Bila tiba saatnya Allah persatukan kita, aku ingin kita menjadi keluarga yang saling menjaga tanpa mengekang, menghormati kebebasan namun tetap memberi perlindungan, serta menjadi sebaik-baik rumah tempat melabukan segenap asa dan kerinduan.

Rindu. Rindu untuk saling bertemu dan memperbaiki diri, hingga kita kembali pada muara asal kita dengan sebaik-baik penerimaan,

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Rabbmu dengan hati puas lagi diridhai, maka masuklah dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam jannahKu.” (Q.S Al Fajr 27-30)

Menggapai ridha Allah adalah tujuan. Bagaimana menuju kesana? Kita akan bahas dalam rapat dan evaluasi rutin keluarga kita. Sampai jumpa.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s