Kurban Pemimpin Kita


“Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).” (QS. Al-Kautsar: 1-3)

Baru saja kita merayakan hari raya idul adha, hari dimana seorang muslim melaksanakan ibadah kurban, yakni menyembelih hewan tertentu sebagai jalan mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Dalam dimensi spiritual, kurban secara simbolik dapat dimaknai sebagai upaya untuk menyembelih nafsu kebinatangan dalam diri manusia. Tak lain karena sebagai pemegang mandat kepemimpinan di muka bumi, seringkali manusia terjatuh ke dalam hawa nafsu kebinatangan yang dengannya sempurnalah kerusakan yang terjadi di wilayah kepemimpinannya.

Tidak akan sampai pada Allah daging dan darah dari hewan yang kita sembelih. Hanya ketakwaan kita yang dapat mencapai-Nya. Demikian Allah berfirman dalam kitab-Nya. Maka, daging binatang pun kita bagi untuk mereka yang membutuhkan, meminta ataupun tidak. Daya ini menjadi pendorong keshalihan sosial yang tercermin dalam solidaritas antar sesama.

Kesediaan untuk mengorbankan ketamakan terhadap harta yang dimiliki, kemampuan finansial untuk mewujudkannya dalam daging kurban sembelihan, keteraturan proses pembagiannya, serta efek solidaritas sosial yang ditimbulkan menjadi modal penggerak terciptanya kesejahteraan sosial yang didamba. Transformasi ini harusnya berlanjut dalam skala yang lebih luas sehingga dampak yang ditimbulkannya pun semakin besar.

Kesediaan berkorban dari semua elemen bangsa tak hanya dimaknai dalam persoalan kurban sembelihan, tetapi juga kesediaan untuk mengorbankan ketamakan dalam eksploitasi sumber daya alam serta penyembelihan besar-besaran segala bentuk egoisme antar kelompok, ras, maupun golongan dalam setiap aspek sosial, ekonomi, politik, dan budaya sehingga tercipta ketentraman dalam kehidupan berbangsa dan benegara.

Pemimpin yang telah dipilih oleh rakyat harusnya menjadi teladan dalam penularan kesadaran ini. Pemimpin yang dimaksud tak hanya ia yang menduduki jabatan struktural di pemerintahan, melainkan juga para tokoh adat, budayawan, akademisi, maupun pemuka agama yang seringkali menjadi rujukan bagi “rakyat”nya masing-masing. Tak hanya diharapkan memberikan teladan kurban dengan menyembelih satu dua ekor sapi, tetapi juga menghadirkan konsistensi dimensi spiritual ibadah kurban itu dalam tutur dan lakunya.

Selama ini, rakyat selalu dituntut untuk mengerti dan memahami apa yang dituturkan oleh para pemimpin ini. Tindakan mereka menjadi rujukan, ujaran mereka pun menjadi sabda. Sayangnya, sering kita amati inkonsistensi dalam tindakan dan ujaran mereka di hadapan publik.

Ketidaksesuaian antara ujaran dan kenyataan terpaksa dianggap kewajaran. Berubahnya segenap aturan dan kebijakan secara tergesa, terpaksa dianggap biasa, normal, dan memang sudah seharusnya. Tak jarang, kolaborasi antar pemimpin ini tak terbantahkan oleh sebab pemelintiran ayat suci, pembenaran secara ngilmiah, dan tentu saja, diamini kejenuhan (atau kebodohan?) rakyat atas segenap bualan. Lantas, sekali lagi, rakyat yang kian tercekik karena kehidupan menjadi semakin sulit menjadi kurban sembelihan para pemimpin binatang ini.

Penyembelihan rakyat secara besar-besaran dilakukan dengan beragam cara. Diantaranya, praktik penggusuran perumahan dengan alibi pengelolaan tata kota (yang kita tahu hanya dinikmati segelintir elite), pembodohan yang dipaksakan masuk ke ruang privat keluarga melalui saluran televisi, melambungnya harga kebutuhan pokok dan penyemaian budaya konsumsi kapitalisme, sabda agamawan yang ramai menyemai konflik antar sesama umat Tuhan, serta beragam varian kebijakan yang tak berpihak pada rakyat. Rakyat disembelih hingga tak berdaya menghadapi beragam belenggu ini.

Mendiamkan kezaliman, pun merupakan bentuk penyembelihan atas nurani yang murni. Namun, barangkali rakyat pun terlalu sibuk dengan kebutuhan (dan nafsu?) untuk mengenyangkan perutnya masing-masing, sibuk atas ukuran-ukurannya sendiri tentang kemapanan dan kesejahteraan, atau malah khusyuk dalam penantian datangnya perubahan yang tak kunjung datang.

Duh, lantas, ayat-ayat mana lagi yang dapat menjadi rujukan agar para pemuka agama bergegas menggalang umat dan para pemimpinnya agar beramai-ramai mengurbankan nafsu kebinatangan dalam dirinya? Atau, kita harus saling menyembelih, kemudian lebur bersama?

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s