Merayakan Hari Merdeka


Beberapa hari ini, lini masa sedang ramai berdebat tentang sekelompok gadis seksi berpakaian mini yang mahir berjoged sambil bernyanyi, yang kabarnya akan diundang memeriahkan perhelatan besar di Indonesia.

Sekelompok orangtua berkata, tidak. Sekelompok anak muda berkata, dasar kolot. Beberapa lainnya, memberi komentar beragam.

Hanya tak habis pikir saja, bagaimana perdebatan antara golongan muda dan golongan tua (sederhananya) memperdebatkan hal yang “nggak penting banget” ini. Dulu, perdebatan dua golongan membahas proklamasi, penerapan syariat Islam di Aceh (Rasuna Said vs Ulama Aceh), dll. Sekarang? Omaigat. Atau memang, sepenting itu hadir tidaknya mereka, ya? Gitu?

Barangkali, pelarangan adalah wujud sayang. Sebab yang tua paham, bahwa penumbuhan karakter, etika (dalam berpakaian, pergaulan, dll) ditumbuhkan lewat tayangan, visualisasi.

Sebab, perilaku terbentuk oleh siapa yang pertama mengajarkan, siapa yang lebih anak percaya, siapa yang menyampaikan dengan cara yg menyenangkan, serta siapa yg lebih sering menemani. Bila kesemua peran ini diambil alih oleh sekelompok idol dengan segenap personifikasi yg melekat padanya, apa yang bisa kita harapkan si? Sekelompok gadis ini memang menghadirkan kegembiraan lewat laku polos, tingkah energik, tawa ceria, dan juga cerita hiburan dalam balutan gosip (tentu saja) mereka dalam lika liku cinta dan karir. Hanya saja, menjadikan mereka sebagai sorot utama pembentuk laku memang mengkhawatirkan.

Belum lagi, fanatisme yang mengurat nadi. Membela hingga titik nadir tanpa paham benar salah asal ikut andil membela. Mestikah kita biarkan?

Sudah terlalu banyak pola asuh yang mengabaikan dan terlalu permisif. Anak diberi kebebasan seluas-luasnya tanpa batasan dan bimbingan. Namun, pelarangan saklek juga memang menyebalkan ya? Sikap otoriter terpatri dan menumbuhkan perlawanan yang justru makin keras. Ruang dialog yang demokratis seharusnya dibuka, agar dua generasi paham yang dimau dan yang tak diharap.

Hanya saja.. bagaimana membuka ruang dialog yang sepertinya macet ini? Ketika yang tua anggap yang muda tak bermoral. Ketika yang muda anggap yang tua kolot dan gagap membaca zaman yang berubah. Jadi, mungkin memang generasi kita sekarang darurat idol baru. Macam Tsamara dengan perempuan melek politiknya. Selebgram hijaber dengan dandanan dan pesan dakwahnya. Ustad atau hafidz rupawan dengan wajah dan akhlaknya. Juga, ribuan romansa cinta yang berbalut kesan Islami. Kadang, memang jengah memandang dakwah pop macam ini. Tapi…. entahlah.

Saya tidak tahu. Sama sekali.

Padahal malam tujuh belasan dengan menonton wayang dan mendegarkan tabuh gamelan bakalan syahdu sekali. Kalau bisa, lakonnya Gathutkaca Lair.

Gathutkaca lahir dari intrik politik dan kepentingan. Oleh Dewata, ia diminta bertarung. Lawannya enggan, sebab yang ia hadapi hanya seorang bocah. Maka, digodoglah ia dalan kawah, diberi pusaka dan kedigdayaan, lalu jadilah ia dewasa secara tak wajar. Tak ada rasa welas asih pada dirinya. Ia kehilangan empati. Kelak, dia bunuh Paman tercintanya, Kalabendana. Dia tantang saudaranya sendiri bertarung sengit. Dia jadikan dirinya mesin pembunuh paling beringas saat Bharatayuda.

Ada juga, lakon yang mirip dengannya kini. Ia lahir dari intrik politik dan kepentingan. Kiprahnya baik, tapi masih dalam lingkup yang amat kecil. Lalu, dia digoreng media. Jadilah ia berkekuatan sangar, digdaya! Karena dewasa dini, ia jadi tak paham susahnya rakyat. Ia naikkan ini dan itu, ia ambil ini dan itu. Ia tantang saudaranya. Ia terbitkan segala macam aturan yang merampas hak. Ia matikan sekutunya sendiri, tanpa ampun.

Oleh Bathara Narada, Gathutkaca dihadapkan dengan Patih Sekipu dan Prabu Kalapracona yang didakwa mengobrak abrik Kahyangan. Tapi, menurut saya memang kahyangan ini emang lagi mudah diobrak abrik sebab Hyang Wisnu memilih moksa dalam tubuh manusianya Sri Kresna. Pun, saya kira dulu ya lawannya tokoh kedua ini memang melawan angkara, pengobrak-abrik, penculik, pembunuh. Hehe

Tentu kisah ini berakhir beda. Yang pertama, gugur sebagai prajurit terbaik dan ksatria utama. Yang kedua, masih kita tunggu akhir kisahnya.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s