Rohis dan Dakwah Sekolah


20375803_10203692409987827_6039060885405239981_n

Sebagai mantan pengurus rohis di SMA Negeri, saya sepakat bahwa keputusan Menteri Agama untuk mengawasi rohis adalah hal yang tidak mendidik. Terutama, bila pengawasan yang dimaksud adalah pembatasan dalam pengelolaan kegiatan rohis, dan bukannya pembimbingan dalam pengorganisasian ekstrakulikuler ini.

Di saat saya menjadi pengurus rohis, sekitar tahun 2009/2010, kami dalam masa awal mengubah mindset rohis bukan hanya sebagai panitia peringatan hari besar Islam. Kami ingin membuat sistem yang holistik mengenai bagaimana rohis terlibat dalam kegiatan dakwah universal dalam lingkup dakwah sekolah. Kami bercita-cita membuat kurikulum yang terpadu mengenai bagaimana pembinaan itu dilakukan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kami bersemangat melakukan ekspansi pemikiran itu, bukan hanya dalam lingkup sekolah kami, tapi dalam forum yang lebih besar: Forum Komunikasi Rohis Se-Kabupaten.

Apakah hal itu kami pikirkan dan rumuskan sendiri? Tidak! Ada sistem yang jauh lebih besar di balik itu. Sistem itu menaungi lingkup gerak kami. Menjadi penyokong ide dan benih wacana yang kemudian kami semai sendiri sesuai jiwa muda kami, dalam batas keluguan dan romantika masa muda.

Tarbiyah lah yang menjadi muasal lahir gerakan dakwah sekolah di SMA. Dulu, kami menciptakan sel sel kecil, tempat kami mendiasporakan ide dan gagasan tentang pemuda islam yang beriman dan berakhlak baik. Sebatas itu. Meskipun, pada lingkup yang lebih terbatas, beberapa “petinggi rohis” pun telah akrab dengan sistem dakwah Tarbiyah secara politik. Serta, akan mengarah kemana dakwah ini nantinya.

Segala bias dakwah dan.politik dicekokkan pada kepala belia yang bimbang. Konsepsi pertemanan antar lawan jenis menjadi bincang hiburan saat penat dengan segala macam rumusan tentang pola dakwah sekolah yang ideal. Tentang tujuan, sasaran, dasar, penyokong dana, lobi-lobi dengan pihak sekolah yang kami anggap terlalu ketat membatasi, hingga akhirnya kami membuat tim yang merumuskan dan mewariskan pola dakwah yang kami angankan.

Setelah kami lulus, kami berdiaspora ke beberapa kampus dan berusaha melakukan rekruitmen yang jauh lebih besar. Sistem sel yang mulanya terbentuk di SMA menjadi bibit unggul untuk disemai dalam lembaga dakwah kampus. Dan tentu saja, banyak dari alumni pengurus rohis menjadi tangan penghubung transfer yang terjadi.

Setelah beberapa tahun berlalu, saya melihat kelebat bayangan kenangan tentang ekspansi dakwah sekolah yang dulu kami lalui sebagai jalan berpikir yang lebih luas. Jalan yang menuntun saya berpikir bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi pada cita-cita luhur tentang islam, pemuda, dan peradaban.

Ada yang salah pada sistem yang membesarkan saya selama SMA ini. Tentang keengganan orangtua kami di sekolah untuk ngemong jiwa muda yang berontak terhadap kejumudan, dan sikap ekstrimisme yang serta merta tertanam. Ada semangat kebaikan yang dibelokkan jadi pembangkangan.

Namun, rohis lebih berarti dari sekedar jadi panitia hari besar Islam. Ada semangat pemuda islam yang dapat ditransmisikan sebagai modal penggerak akhlaq yang mulia, pencari ilmu yang prestatif, serta manusia yang paham mengenai hakikat diri dan penciptanya.

Harapan saya, orangtua kami di sekolah selalu menyambut hangat semangat yang bersemi, bukannya membonsai dan mematikan. Bimbinglah adik-adik kami menjadi pemuda islam yang prestatif, berakhlak mulia, mencintai tanah air, dan memiliki cita-cita yang menjadikan Islam sebagai ruh dalam menjalani aktifitas. Jangan jadikan adik-adik kami menjadi ekstrimis dan radikal oleh pengekangan dan pembatasan.

🙂

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s