Tazkiyah, Pembebasan Diri dari Belenggu


purify

Saya begitu terkesan pada pemaparan Dr. Aly Abdel Moenim dalam acara Intellectual Youth Summit 2.0 kemarin. Cara bicara beliau yang relatif monoton dan linear membuat saya “tersihir” untuk larut mengikuti pemaparan beliau dalam membangun apa yang disebut sebagai “alam konsep”. Bernasnya apa yang beliau sampaikan tentang kewajiban paling mendasar manusia untuk berpikir, mengawalinya dengan tazkiyah, serta membangun alam konsep yang di dalamnya kita memberikan penanda dan gambaran utuh akan segala hal adalah keharusan bagi para pemikir sebagai bentuk kehati-hatian yang istiqomah.

“Barangsiapa yang tidak bersyukur pada manusia, maka ia tak bersyukur pada Allah.” Begitu kata Dr. Aly Abdel Moenim sebelum memulai pemaparannya untuk selanjutnya berterima kasih atas kehadiran peserta IYS 2.0. Saya baru memaknainya belakangan, sebab ternyata apa yang beliau sampaikan setelahnya bukanlah tentang kesadaran kemanusiaan (secara timbal balik dengan sesama) dan kesadaran ketuhanan, tetapi menariknya lebih dekat pada kesadaran akan diri yang satu, utuh, dan memiliki fokus.

Menurut beliau, salah satu kerikil yang menghalangi manusia menjadi diri yang utuh adalah karena tidak adanya fokus pada diri. Manusia dicabik-cabik dan tercerabut dari keutuhannya. Hal ini salah satunya terjadi karena pemiskinan struktural. Pemiskinan struktural ini seolah tersembunyi jauh dalam struktur sosial, meski dampak luarnya amat nyata terlihat.

Industri raksasa memproduksi teknologi yang membuat kita teralienisasi dari kehidupan sebenarnya. Iklan memakan ruang publik di jalan-jalan dan menceraiberaikan atensi kita. Perilaku manusia, pada akhirnya, akan lebih ditentukan oleh kuasa bawah sadar daripada kesadarannya. Manusia akan gagal memandang realitas secara utuh karena lebih menekankan pada aspek emosional, bukan pada aspek intelektual.

Lebih lanjut, manusia “dianiaya” secara tidak sadar melalui “tittitainment”, karena dalam kurun waktu yang lama dijejali dengan gemerlapnya alam mimpi, disuguhi produksi kebutuhan tersier yang terus menerus, tetapi kebutuhan dan hak-hak dasarnya malah tergerus tanpa ampun. Orang hidup dijinakkan, dipermiskin, dengan cara yang struktural dan sistematis, kemudian kehilangan kemanusiaannya karena objektivikasi.

Bagi saya, apa yang beliau sampaikan ini amat menggugah. Kesadaran ketuhanan dan kesadaran kemanusiaan mengikat manusia agar memahami dirinya, sehingga ia mampu mengaitkan antar kesadaran itu dan menjadi manusia utuh paripurna. Ia akan melihat realitas dengan utuh dan tidak parsial. Ia keluar dari kungkungan relativisme total yang nilainya tergantung pribadi. Ia tidak tergantung pada nilai-nilai dominan yang berkuasa. Ia juga mampu keluar dari asumsi-asumi yang dibangun dari emosi biologisnya sendiri. Sederhananya, menjadi manusia merdeka.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s