Pusaran, An


Sudah berapa lama kau menunggu balasan surat dariku An? Lama sekali ya? Maaf, tapi entah kenapa aku belum ingin menulis balasan surat untukmu, entah kenapa, tak ada alasan. Jadi, ya akhirnya baru malam ini. Selamat Malam. Malam ini jalanan ramai sekali. Langit mendung tak bersahabat, udara dingin membuat gigil yang malas, pemandangan kelabu, sempurna terbingkai … Lanjutkan membaca Pusaran, An

Menunggu Hujan


Menunggu tak selamanya karena sebuah kedatangan Kadang kepergian juga ditunggu Bahkan untuk sesuatu yang paling tidak diinginkan untuk pergi "Datang adalah mukanya, pergi adalah punggungnya" Kamu suka hujan? Apa kamu pikir dia tak akan pergi? Saat kamu menikmati wanginya Hakikatnya, kau sedang menungguinya untuk pergi   Demikian kata Kembara saat aku tengah menunggu Hujan di … Lanjutkan membaca Menunggu Hujan

Seperti Kecanduan, An


Malam pukul 22.15 WIB aku mulai menulis surat ini. Beberapa hari ini aku juga lelah, sangat lelah, perasaanku agak kacau karena aku kehilangan seorang sahabat yang baru kukenal belum lama ini. Aku sudah merasa bahwa ia menjauh dariku dua hari kebelakang, tapi baru siang tadi kami benar-benar mengucapkan selamat tinggal. Aku tak yakin esok saat … Lanjutkan membaca Seperti Kecanduan, An

Surat Kecil Untuk Al #1


Surat dari Chus, membuatku berpikir panjang..

Menghela Nafas

Pembelajar biasa

Hai, Al.

Anggap saja kita sudah tidak bertemu sekian lama. Membiarkan tulisan ini mengalir. Yah, mugkin secara fisik kita dekat, akan tetapi kedekatan bukan soal apakah kita berada di jauh atau dekat secara fisik, namun lebih kepada sikap mengenang dan saling mempelajari tatkala jauh maupun dekat, iya kan, Al?

Layaknya seorang teman, ijinkan aku menanyakan pertanyaan klasik ini, “apa kabar, Al?”

Ku rasa kau akan menjawab keadaanmu baik-baik saja, walau selanjutnya kau akan menghujaniku dengan berbagai ceritamu yang panjang lebar. Kadang sampai bosan mendengarmu bercerita yang tiada habisnya.  Tapi lebih seringnya aku tertarik mendengar ceritamu dari pada mati bosan. Sering pula aku tidak fokus mendengarkan ceritamu karena kebiasaanku yang susah diam. Dan aku melihatmu masih bersemangat bercerita. Mungkin telinga ini, masih harus belajar untuk mendengar.

Al, mengapa aku menulis surat ini? Entahlah, aku dengan alasanku dan kau dengan alasanmu. Aku jadi teringat ucapan seseorang, “menulis merupakan proses masturbasi diri”. Ada…

Lihat pos aslinya 315 kata lagi

Tentu Kau Bisa, An!


Hai An! Maaf baru membalas suratmu setelah hampir satu pekan berlalu. Bukannya aku tak sempat, hanya memang menyengajakan diri untuk membalas suratmu sabtu malam atau ahad pagi. Ya, jadi inilah, kuawali dengan berkata Hai. Normatif sekali ya? Baiklah, jadi harus kumulai darimana? Mengenai spekulasi yang mungkin akan berkembang di luar mengenai surat-surat ini. Entahlah. Aku … Lanjutkan membaca Tentu Kau Bisa, An!